<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7818674461910844188</id><updated>2012-02-16T09:18:15.687-08:00</updated><category term='orat oret'/><category term='artikel koran'/><category term='lingkungan'/><category term='pop'/><title type='text'>garishitam</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://garishitam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7818674461910844188/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garishitam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Madrasah Falsafah Sophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06048138029067875070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ndm50Km1tFI/S_K_wd5PIWI/AAAAAAAAAJw/WeIL4Ux19sw/S220/ciwalk+time.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7818674461910844188.post-2023274820189371837</id><published>2010-05-16T08:20:00.002-07:00</published><updated>2010-05-16T08:21:31.265-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel koran'/><title type='text'>Gandhi, Si Pengagum Rasul Muhammad</title><content type='html'>Suatu ketika,&lt;br /&gt;Gandhi pernah dikirim cek sebesar dua puluh pound oleh sahabatnya Madeline dari&lt;br /&gt;Inggris. Sebagai ucapan terima kasih, Gandhi mengirimkan sepucuk surat balasan&lt;br /&gt;kepada Madeline, isi pesannya : “Temanku&lt;br /&gt;,…Aku berterima kasih atas cek dua puluh pound yang kau kirimkan. Uang itu akan&lt;br /&gt;digunakan untuk memopulerkan roda pintal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu&lt;br /&gt;roda pintal menjadi simbol perjuangan masyarakat India yang melambangkan&lt;br /&gt;kebajikan yang paling tinggi. Di bawah bimbingan Gandhi, simbol perjuangan itu&lt;br /&gt;kemudian menjelma menjadi simbol dalam banyak hal: kaum miskin India,&lt;br /&gt;perjuangan negeri India untuk kemerdekaan, dan persaudaraan yang bersifat&lt;br /&gt;universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini&lt;br /&gt;hanyalah sepenggal peristiwa sejarah perjalanan perjuangan Mahatma Gandhi dalam&lt;br /&gt;mewujudkan kemerdekaan. Bagi Gandhi, kemerdekaan dapat diwujudkan melalui&lt;br /&gt;kemandirian masing-masing warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti&lt;br /&gt;pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini&lt;br /&gt;mengundang kita untuk kembali mempertanyakan kembali keberadaan kita saat ini&lt;br /&gt;di tengah impitan ekonomi dan pengaruh arus konsumerisme yang sengaja&lt;br /&gt;diciptakan untuk menyokong pasar global. Lalu apa arti dari perjuangan dalam&lt;br /&gt;membebaskan diri dari keterjajahan yang senantiasa terjadi dalam keseharian&lt;br /&gt;kita? Bagaimana cara kita menyikapi permasalahan tersebut? Bukankah salah satu&lt;br /&gt;bentuk dari penjajahan dan keterjajahan adalah aspek ketergantungan?&lt;br /&gt;Ketergantungan pada pola konsumsi yang konsumtif misalnya, ketergantungan pada&lt;br /&gt;barang-barang impor, ketergantungan pada teknologi, ketergantungan pada sikap&lt;br /&gt;orang lain, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari Gandhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyikapi&lt;br /&gt;permasalahan tersebut, ada baiknya kita bercermin sejenak dari apa yang pernah&lt;br /&gt;dilakukan oleh Mahatma Gandhi yang punya nama asli Mohandas Karamchand Gandhi (1869-1948). Ia&lt;br /&gt;pernah melakukan gerakan nonkooperatif terhadap penjajah inggris kala itu,&lt;br /&gt;sebuah gerakan politik moral yang menekankan pada pemintalan benang. Sebuah&lt;br /&gt;gerakan yang berdasarkan pada semangat ahimsa&lt;br /&gt;yang berarti nir-kekerasan (non-violence) atau bisa pula diartikan cinta, yang&lt;br /&gt;kemudian melahirkan pandangan swasembada&lt;br /&gt;dan swadeshi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi dari&lt;br /&gt;gerakan swasembada atau self-sufficiensy village adalah&lt;br /&gt;kemampuan setiap desa atau beberapa desa untuk melakukan secara bersama-sama&lt;br /&gt;proses produksi mengubah bahan mentah manjadi barang-barang yang bisa digunakan&lt;br /&gt;untuk memenuhi kebutuhan primer mereka dan juga kebutuhan orang lain. Sementara&lt;br /&gt;itu, swadeshi berarti bertumpu pada&lt;br /&gt;kekuatan sendiri (self-reliance).&lt;br /&gt;Bagi Gandhi, baik swadeshi maupun swasembada sangat erat kaitannya dengan swaraj yang berarti kebebasan, merdeka,&lt;br /&gt;atau pemerintah oleh negeri sendiri (self-rule).&lt;br /&gt;Alasanya, pemerintah negeri sendiri mustahil tercapai tanpa bertumpu pada pada&lt;br /&gt;kekuatan sendiri, baik secara fisik maupun mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gandhi menjadikan&lt;br /&gt;roda pintal menjadi simbol dalam gerakan ini. Kegiatan memintal barang&lt;br /&gt;merupakan aktivitas harian wajid di ashram.&lt;br /&gt;Aktivitas memintal benang merupakan sesuatu yang esensial dalam program&lt;br /&gt;konstruktif dalam ajaran Gandhi. Memintal, menurut Gandhi, dapat mengurangi&lt;br /&gt;tingkat kemiskinan India dan membuat kaum miskin mandiri secara ekonomi. Selain&lt;br /&gt;dari keuntungan ekonomi, Gandhi melihat aktivitas memintal benang sebagai cara&lt;br /&gt;yang efisien untuk mendisiplinkan massa yang merupakan esensi vital gerakan perlawanan&lt;br /&gt;sipil tanpa kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Do it yourself”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swasembada dan swadeshi model Gandhi dapat menjadi solusi alternative dari masalah&lt;br /&gt;perekonomian Indonesia saat ini. Hanya model ini dapat dilakukan bila kita&lt;br /&gt;memiliki pemahaman yang memadai tentang esensi pembebasan dari keterjajahan.&lt;br /&gt;Sempitnya pemahaman pembebasan dari keterjajahan secara substansial menyebabkan&lt;br /&gt;manusia sering diliputi oleh berbagai kepentingan duniawi semata. Melakukan&lt;br /&gt;proses pembebasan atau swaraj berarti&lt;br /&gt;melakukan swasembada dan swadeshi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semangat swasembada dan swadeshi, berkarya dan bekerja bukan hanya urusan pertimbangan&lt;br /&gt;ekonomi semata. Oleh karena itu, perubahan tatanan ekonomi misalnya, yang&lt;br /&gt;bertujuan untuk mewujudkan kehidupan yang layak dan manusiawi harus berpegang&lt;br /&gt;pada prinsip-prinsip kemanusiaan dan ditunjukan untuk kesejahteraan manusia. Di&lt;br /&gt;mata Gandhi, kemampuan manusia berkerja dan berproduksi itu sangat luar biasa&lt;br /&gt;dan menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Gandhi,&lt;br /&gt;kehormatan manusia itu bisa dikaitkan dengan kehormatan kerjanya. Seseorang yang&lt;br /&gt;tidak bisa menerima kerja sebagai kehormatan, dia sendiri tidak akan memiliki&lt;br /&gt;kehormatan. Oleh karena itu, tidak boleh ada seseorang pun yang memiliki hak&lt;br /&gt;untuk bebas bekerja dan berkarya. Jadi, tidak ada alasan bagi satu orang pun&lt;br /&gt;untuk berpangku tangan hanya karena merasa dirinya masih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sangat&lt;br /&gt;membutuhkan gagasan Gandhi karena dalam beberapa aspek kita tak bisa&lt;br /&gt;menggunakan kekayaan sumber daya bagi kesejahteraan bersama. Konon, Indonesia&lt;br /&gt;merupakan negeri yang kaya akan sumber daya alam yang melimpah ruah dari sabang&lt;br /&gt;sampai merauke dan memiliki potensi sumber daya manusia yang sangat banyak&lt;br /&gt;sekitar dua ratus jutaan. Namun dari jumlah yang banyak tersebut, kebanyakan&lt;br /&gt;adalah pengangguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah&lt;br /&gt;fenomena menarik akhir-akhir ini yang sengaja diekspose oleh salah satu stasiun&lt;br /&gt;televisi swasta terkemuka di Indonesia, tentang sebuah bursa lowongan kerja&lt;br /&gt;yang diadakan hanya untuk menempati 500 kursi, sedangkan peminatnya mencapai&lt;br /&gt;puluhan ribu pelamar yang kebanyakan dari mereka itu adalah generasi muda.&lt;br /&gt;Sebenarnya fenomena ini bukanlah fenomena yang luar biasa. Pasalnya, pada&lt;br /&gt;setiap dibuka bursa lowongan kerja, tumpah ruahnya pelamar menjadi pemandangan&lt;br /&gt;sehari-hari dalam setiap bursa lowongan kerja dimanapun di negeri ini&lt;br /&gt;diadakanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena sosial&lt;br /&gt;semacam ini, kiranya mampu mendorong generasi muda untuk berpikir kritis dan&lt;br /&gt;bertindak secara praktis. Selama generasi muda masih beranggapan bahwa&lt;br /&gt;pekerjaan hanya bisa dicari dan bukan diciptakan maka fenomena berdesak-desakan&lt;br /&gt;di bursa lowongan kerja akan semakin meluber bagai luapan lumpur Lapindo&lt;br /&gt;Brantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini akan&lt;br /&gt;semakin sulit apabila kecenderungan life&lt;br /&gt;style, baik pada generasi muda maupun masyarakat, umumnya terjebak pada&lt;br /&gt;pola konsumerisme dan materialisme. Life&lt;br /&gt;style ini menyebabkan orientasi hidup lebih terarah pada kepemilikan&lt;br /&gt;benda-benda, bukan pada pola produktivitas karya dan kerja. Dengan kata lain,&lt;br /&gt;konsumerisme akan menggerogoti kemandirian bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di sisi&lt;br /&gt;lain, diam-diam masih ada riak-riak kecil dari generasi muda yang dapat memberikan&lt;br /&gt;harapan bagi munculnya kemandirian. Pada kalangan generasi muda terdapat&lt;br /&gt;filosofi “Do it yourself”. Dari&lt;br /&gt;filosofi tersebut kemudian melahirkan komunitas-komunitas generasi muda kreatif&lt;br /&gt;seperti bermunculannya penerbit-penerbit buku baru yang digawangi oleh para&lt;br /&gt;mahasiwa, clothing dan distro-distro yang awalnya sekedar&lt;br /&gt;pemenuhan kebutuhan komunitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan-perusahaan&lt;br /&gt;rekaman yang berada dibawah kibaran indie&lt;br /&gt;label, sebagai salah satu bentuk&lt;br /&gt;perlawanan terhadap perusahaan major&lt;br /&gt;label. Home industry-home industry&lt;br /&gt;seperti kue atau penganan lainnya yang awalnya hanya pesanan tetangga, kemudian&lt;br /&gt;berkembang menjadi komoditas wisata dan menjelma menjadi trade mark kotanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat “Do it yourself” ini dalam beberapa hal&lt;br /&gt;mirip dengan semangat swasembada dan swadeshi Gandhi. Bila semangat ini mampu&lt;br /&gt;menggema dan menjalar sampai ke relung kalbu dan urat-urat nadi seluruh&lt;br /&gt;generasi muda bangsa Indonesia, mungkin yang terjadi pada fenomena bursa&lt;br /&gt;lowongan kerja tidak akan seperti sekarang, yang terjadi malah bursa lowongan&lt;br /&gt;kerja sepi peminat, bahkan mereka tidak sempat lagi memikirkan untuk melamar&lt;br /&gt;kerja. Generasi muda saat ini misalnya, lebih memilih untuk menciptakan&lt;br /&gt;pekerjaannya sendiri ketimbang menggantungkan diri menjadi seorang pegawai atau&lt;br /&gt;buruh dari sebuah perusahaan asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Gandhi&lt;br /&gt;sebenarnya bukanlah ajaran yang asing dan susah direalisasikan. Semua agama&lt;br /&gt;mengajarkan kemandirian dan kesederhanaan. Bahkan dalam salah satu memoarnya,&lt;br /&gt;Gandhi secara jujur mengakui kekagumannya pada ajaran Rasul Muhammad tentang&lt;br /&gt;gaya hidup sederhana. Dalam Young India&lt;br /&gt;1922, Gandhi menulis, “Saya ingin mengetahui tentang manusia paling berpengaruh&lt;br /&gt;dalam hati jutaan umat manusia…. Saya semakin bertambah yakin bahkan kemenangan&lt;br /&gt;yang didapat oleh Islam pada masa-masa itu bukanlah dari ayunan pedang.&lt;br /&gt;Kemenangan itu buah dari kesederhanaan Nabi yang gigih. Keikhlasan Nabi yang&lt;br /&gt;telah mencapai puncaknya, kehati-hatian terhadap semua amanat yang diembannya,&lt;br /&gt;pengabdian yang mendalam terhadap para sahabat dan pengikutnya, keberanianya,&lt;br /&gt;ketidaktakutannya, keyakinan yang sempurna terhadap Tuhan dan misinya. Inilah&lt;br /&gt;semua dan bukanlah jalan pedang yang mengatasi semua halangan-halangan itu.&lt;br /&gt;Ketika saya menyelesaikan bab kedua dari biografi sang Nabi, saya menyesal:&lt;br /&gt;sudah tidak ada lagi kehidupan agung lain yang bisa saya pelajari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Gandhi&lt;br /&gt;dapat belajar dari kesederhanaan dan keagungan Rasul Muhammad, tentu saja&lt;br /&gt;mayoritas umat Islam Indonesia juga dapat melakukannya secara lebih baik. Khairunnas anfa’uhum linnas.&lt;br /&gt;(Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain)!*** by. rosihan fahmi. (Pikiran Rakyat, 2 Februari 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7818674461910844188-2023274820189371837?l=garishitam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garishitam.blogspot.com/feeds/2023274820189371837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://garishitam.blogspot.com/2010/05/gandhi-si-pengagum-rasul-muhammad.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7818674461910844188/posts/default/2023274820189371837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7818674461910844188/posts/default/2023274820189371837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garishitam.blogspot.com/2010/05/gandhi-si-pengagum-rasul-muhammad.html' title='Gandhi, Si Pengagum Rasul Muhammad'/><author><name>Madrasah Falsafah Sophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06048138029067875070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ndm50Km1tFI/S_K_wd5PIWI/AAAAAAAAAJw/WeIL4Ux19sw/S220/ciwalk+time.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7818674461910844188.post-586962543013319232</id><published>2010-05-16T08:20:00.001-07:00</published><updated>2010-05-16T08:20:31.799-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pop'/><title type='text'>Dari Keledai Sampai Tuhan</title><content type='html'>Cerita ini sebenarnya sudah cukup lama kejadiaanya. Suatu ketika, ada sebuah pertanyaan iseng yang meluncur dari mulut seorang teman, katanya: “Mengapa&lt;br /&gt;seekor keledai sering disebut-sebut sebagai binatang bodoh?”. Sejenakteman-teman yang hadir dalam obrolan disebuah warung kopi terdiam: heran (kok ada yah pertanyaan iseng kayak gini!), mengerutkan dahi (gak penting banget sih!), sampai akhirnya ada yang berusaha menanggapinya. “Mungkin, karena bisa&lt;br /&gt;dilihat dari perilaku keledai yang selalu melakukan perbuatan bodoh yang sama, selalu terperosok kedalam lubang yang sama!”, timpal seorang teman&lt;br /&gt;perempuan. Lalu, temanku yang menyodorkan pertanyaan langsung menyalip dengan ungkapan tidak sertuju. “Permasalahannya adalah mengapa harus keledai yang di cap sebagai binatang bodoh? Kasihan bangetkan!.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa saat kemudian, akhirnya bermunculan komentar-komentar dari yang iseng sampai serius, dari yang cuma akal-akalan sampai ada yang menggunakan referensi dari kitab suci segala. Lucunya, temanku yang “peduli” pada keledai itu, dia sendiri enggak tau seperti apa binatang keledai itu. Dan bayangkan, obrolan kecil itu terjadi pada petang hari ditengah keramaian kota Bandung hingga toko-toko disekitarnya tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan warung kopi. Obrolan ngalor ngidul. Namun tidak senyatanya demikian obrolan yang terjadi ketika itu. Kesan yang dirasakan adalah sebuah upaya pemenuhan diri, kaya akan khazanah intelektual dan spiritual. Sebuah obrolan ringan namun berbobot. Ringan kerena muncul dari pikiran-pikiran iseng dari keseharian, berbobot karena oborolan bergulir sampai mampu manusuk kesadaran diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan jika obrolan “konyol” nan berbobot itu bisa terjadi. Betapa tidak, masyarakat kini yang kian hari kian mekanis, terjerembab dalam rutinitas sehari-hari menyebabkan terjadinya kedangkalan, pengkeroposan kesadaran. Proses pemenuhan diri merupakan sifat lahiriah manusia asali yang senantiasa membutuhkan pemenuhan diri untuk bisa sampai pada wilayah spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngobrol merupakan salah satu media manusia bagaimana ia mencitrakan dirinya. Namun yang menjadi permasalahan disini dan sekarang adalah masih adakah ruang untuk pemenuhan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah hingar bingar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang senyatanya membuat manusia semakin&lt;br /&gt;“berjarak” bahkan dengan dirinya sendiri. Kemajuan ilmu pengetahuan dan&lt;br /&gt;teknologi pada satu sisi memang membuat hidup manusia menjadi lebih mudah. Komputer&lt;br /&gt;jinjing, dan telepon seluler ditangan mampu mendekatkan keberjarakan antar&lt;br /&gt;manusia. Namun untuk mendapatkan segala kemudahan tersebut (HP, Laptop, dll),&lt;br /&gt;manusia terkadang harus menggadaikan atau bila perlu “menumbalkan” sebagaian&lt;br /&gt;hidup bahkan dirinya sendiri kedalam jurang lautan yang “a humanis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak, manusia kebanyakan&lt;br /&gt;saat ini semakin hari semakin mengurangi intensitasnya untuk saling&lt;br /&gt;berinteraksi bertegur sapa, bercengkrama dengan sesama manusia. Pun kalau&lt;br /&gt;terjadi, hanya pada tataran mekanis semata. Sepasang suami istri dalam sebuah&lt;br /&gt;keluarga misalnya, bisa terjadi interaksi pabila sekadar untuk menyocokkan&lt;br /&gt;jadwal bersama, ketika situasi manakala salah satu dari mereka sakit atau salah&lt;br /&gt;satu dari anak mereka yang sakit, lebih parah jika ritual berinteraksi tersebut&lt;br /&gt;hanya tersedia pada waktu weekend&lt;br /&gt;atau pada saat hari raya. Manusia yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ruang sosial yang lain&lt;br /&gt;seperti dunia kerja misalnya, mungkin kejadiannya bisa lebih parah lagi.&lt;br /&gt;Masyarakat kerja yang hanya terhimpun dalam sebuah aktivitas kerja, kegiatan&lt;br /&gt;manusia tidak jauh beda dengan sistem mekanis saklar lampu: on/off. Pertemuan-pertemuan yang&lt;br /&gt;diciptakan dalam ruang kerja hanya sebatas pemenuhan manusia sebagai homo labor. Tidak lebih dari itu. Dunia&lt;br /&gt;kerja yang seperti itu hanya akan melahirkan ”keterasingan dunia”, yaitu&lt;br /&gt;hilangnya dunia pengalaman dan tindakan yang dimiliki bersama. Sembari mengutip&lt;br /&gt;seorang filsuf perempuan: Hannah Arendt, menurutnya kondisi tersebut akan mengakibatkan manusia&lt;br /&gt;akan kesulitan untuk menemukan konfirmasi atas identitas diri dengan orang&lt;br /&gt;lain. Maka semakin sulitlah kita untuk menemukan siap diri kita sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah institusi pendidikan&lt;br /&gt;seperti, sekolah atau universitas idealnya memang mampu memberikan ruang yang&lt;br /&gt;seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya dalam upaya pemenuhan hasrat “ngobrol” ini.&lt;br /&gt;Namun yang terjadi, tidak jauh beda dengan wilayah-wilayah sebelumya, yakni&lt;br /&gt;ruang keluarga dan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para siswa maupun&lt;br /&gt;mahasiswa tidak sedikit yang hanya terjebak pada mekanisme dan rutinitas kebijakan&lt;br /&gt;institusi. Belajar hanya sekadar rutinitas kegiatan untuk mendapatkan nilai dan&lt;br /&gt;prestasi, dengan tidak mengindahkan bagaimana mendalami dan menghayati proses&lt;br /&gt;belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana? Adakah alternatif&lt;br /&gt;lain untuk pemenuhan hasrat “ngobrol” yang ringan namun berbobot? Bagi sebagian&lt;br /&gt;kalangan pelajar dan mahasiswa, hal seperti ini sesungguhnya bukanlah barang&lt;br /&gt;baru. Mereka bisa temui dan ciptakan ruang-ruang “ngobrol” dalam berbagai&lt;br /&gt;media. Mulai dari komunitas yang real&lt;br /&gt;sampai ruang komunitas virtual reality.&lt;br /&gt;Demikian pun, bagi masyarakat yang sudah akrab dengan dunia teknologi internet,&lt;br /&gt;semuanya telah tersedia. Namun apakah dengan segala kemudahan dan ketersediaan&lt;br /&gt;media teknologi mampu menghadirkan dan memenuhi “kesadaran” hasrat subtil&lt;br /&gt;manusia tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya sebuah pertemuan yang real; bertatap mata, saling tukar&lt;br /&gt;bicara, berbagi tempat duduk, minuman dan makanan, saling menghargai pendapat&lt;br /&gt;dan penyangkalan, humor yang mengundang canda tawa, berpelukan dan saling&lt;br /&gt;berjabatan tangan dengan balutan obrolan yang hangat dan bersahabat menjadi&lt;br /&gt;elternatif satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan ruang yang lapang&lt;br /&gt;dalam setiap pertemuan yang intenslah sesungguhnya, manusia akan semakin&lt;br /&gt;menemukan “kediriannya”. Tidak ada ruang lain, selain satu sama lain berusaha&lt;br /&gt;saling membukakan diri dalam setiap pertemuannya, baik di rumah, sekolah,&lt;br /&gt;universitas, ruang kerja, bahkan ruang ibadah sekalipun. Dengan demikian,&lt;br /&gt;keterjebakan manusia dalam mekanisme rutinitas dunia lambat laun akan semakin&lt;br /&gt;terangkat, manusia akan kembali kepada kemanusiaannya yang hakiki, sebagai&lt;br /&gt;mahluk yang layak diandalkan sebagai khalifah, dimanapun ia berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan kesadaran&lt;br /&gt;tersebut, bukanlah sesuatu yang rumit. Semuanya ada disekitar kita, ada dalam&lt;br /&gt;keseharian, bahkan dalam diri kita sendiri. Mengawali hidup dengan bertanya&lt;br /&gt;terlebih dahulu, bahkan dengan sebuah pertanyaan yang terdengar bodoh sekalipun,&lt;br /&gt;barangkali akan lebih baik ketimbang berlari-lari mengejar bis kota, tanpa&lt;br /&gt;pernah tau bis arah mana yang sedang kita kejar. Pertanyaan bukanlah sebuah&lt;br /&gt;ukuran. Demikian pun lebel bodoh yang kadung nempel pada hewan seperti keledai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keledai mungkin, bukanlah&lt;br /&gt;binatang bodoh. Kebodohan hanya ada dalam pikiran. Sementara pikiran hanyalah&lt;br /&gt;milik manusia. Tuhan telah menjadikan keledei sebagai metaphor bagi manusia. Jika&lt;br /&gt;ada manusia yang berilmu, perpengetahuan, dan berpendidikan namun tidak pernah&lt;br /&gt;mengamalkan, mempraktekkan apalagi untuk kebaikan segenap kebaikan alam&lt;br /&gt;semesta, khususnya untuk manusia, maka tindakan tersebut sama halnya dengan “seekor&lt;br /&gt;keledai yang hanya mampu memikul tumpukan buku-buku dan kitab-kitab di&lt;br /&gt;pundaknya tanpa bisa menggunakannya.(Lihat, Q.S. 62:5). Lalu siapa sesungguhnya&lt;br /&gt;yang bodoh? Manusia apa keledai?. by. rosihan fahmi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7818674461910844188-586962543013319232?l=garishitam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garishitam.blogspot.com/feeds/586962543013319232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://garishitam.blogspot.com/2010/05/dari-keledai-sampai-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7818674461910844188/posts/default/586962543013319232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7818674461910844188/posts/default/586962543013319232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garishitam.blogspot.com/2010/05/dari-keledai-sampai-tuhan.html' title='Dari Keledai Sampai Tuhan'/><author><name>Madrasah Falsafah Sophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06048138029067875070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ndm50Km1tFI/S_K_wd5PIWI/AAAAAAAAAJw/WeIL4Ux19sw/S220/ciwalk+time.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7818674461910844188.post-6894552746225930981</id><published>2010-05-16T08:18:00.000-07:00</published><updated>2010-05-16T08:19:25.530-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pop'/><title type='text'>Selamat Datang di Negeri Kartun!…</title><content type='html'>Pembaca yang&lt;br /&gt;budiman mungkin sudah sangat akrab dengan tontonan film-film kartun, yang&lt;br /&gt;sering disajikan di hampir seluruh stasiun televisi di Indonesia.Sebuah tontonan yang&lt;br /&gt;sering dianggap ringan nan menghibur bahkan dikategorikan sebagai tontonan&lt;br /&gt;anak-anak yang tidak membutuhkan bimbingan orang tua dewasa. Sebut saja seperti&lt;br /&gt;film kartun “Tom &amp; Jerry”: Sebuah film kartun yang mengisahkan aksi&lt;br /&gt;kejar-kejaran yang tiada henti antara sosok tikus kecil dan si kucing penjaga&lt;br /&gt;rumah. “Sinchan“: Film kartun Jepang yang mengisahkan sosok seorang anak lelaki&lt;br /&gt;mungil, murid dari salah satu Taman Kanan-kanak di Jepang yang pernah menjadi film kartun kontroversial di Indonesia. Tidak&lt;br /&gt;jarang kalau kemudian tokoh-tokoh kartun itu kemudian menjadi tokoh favorit&lt;br /&gt;atau malahan menjadi panutan (idola) anak-anak. Banyak lagi sejumlah film-film&lt;br /&gt;kartun saat ini seperti keluaran Walt Disney, Niklodeon, dan film-film kartun&lt;br /&gt;produksi Jepang yang telah menjadi bagian keseharian konsumsi anak-anak di&lt;br /&gt;Negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film kartun&lt;br /&gt;merupakan sebuah produk budaya masyarakat modern yang keberadaannya mampu&lt;br /&gt;melampaui banyak generasi. Hampir mirip dengan produk budaya masyarakat&lt;br /&gt;primitif dengan patung-patung, relief-relief, atau arca-arca yang juga mampu&lt;br /&gt;melampaui peradaban. Meskipun dari masing-masing produk budaya tersebut&lt;br /&gt;memiliki nilai-nilai yang sebenarnya tidak bisa diperbandingkan, karena memang&lt;br /&gt;dari tujuan, semangat, kontekstualitas dan keperuntukannya yang berbeda. Namun&lt;br /&gt;dalam dua hal tersebut (kartun sebagai produk modern, dan relief sebagai produk&lt;br /&gt;primitif misalnya) memiliki garis merah sebagai bagian dari produk manusia. Sebagai&lt;br /&gt;produk dari hasil ikhtiar manusia dalam merenungkan diri dan alam sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tontonan film kartun&lt;br /&gt;yang sering dianggap (bahkan disepelekan) sebagai tontonan anak-anak yang belum&lt;br /&gt;dewasa oleh sebagian masyarakat di Negeri ini, mungkin karena berawal dari&lt;br /&gt;asumsi bahwa film kartun bukan berasal dari dunia nyata (dunia manusia)&lt;br /&gt;sehingga dianggap berjarak dengan keseharian manusia. Seperti kegiatan menonton&lt;br /&gt;harimau di kebun binatang. Antara manusia dan harimau dibatasi dengan&lt;br /&gt;kerangkeng. Aman!…toh harimau itu dikerangkeng dan tidak mungkin menggigit&lt;br /&gt;atau menerkam anak-anak manusia yang sedang asyik menontonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan penyikapan&lt;br /&gt;masyarakat yang menganggap dirinya dewasa ketika anak-anaknya sedang menonton&lt;br /&gt;tayangan-tayangan yang bersifat nyata seperti film-film aksi, drama, sinetron, reality show, atau tayangan olah raga&lt;br /&gt;seperti Smack Down, yang akhir-akhir ini&lt;br /&gt;telah dianggap sebagai pemicu munculnya banyak korban (anak-anak) yang telah&lt;br /&gt;menirukan adegan-adegan dalam tayangan tersebut, yang jelas-jelas&lt;br /&gt;di/membutuhkan bimbingan atau tuntunan (guide)&lt;br /&gt;dalam menikmatinya, malah sering luput disikapi secara serius. Manusia malas&lt;br /&gt;untuk berpikir panjang untuk bisa melihat efek dari suatu kegiatan, sehingga&lt;br /&gt;kalau sudah ada yang kena batunya –mati-baru ada tindakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film kartun atau&lt;br /&gt;animasi yang saat ini sedang populer, merupakan sebuh tontonan yang sering&lt;br /&gt;dianggap tidak jauh dari sekadar hiburan belaka. Padahal kalau dicermati,&lt;br /&gt;secara seksama dalam banyak adegannya sering mempertontonkan hal-hal yang berada&lt;br /&gt;diluar nalar (akal sehat), bahkan orang dewasa pun akan mendapatkan kesulitan&lt;br /&gt;dalam menjelaskan setiap adegan-adegannya. Dalam banyak adegan film-film&lt;br /&gt;kartun, memang sering mengusung tema-tema yang bersifat kemanusiaan atau keseharian&lt;br /&gt;manusia, seperti: persahabatan, percintaan, kekeluargaan, kepeduliaan,&lt;br /&gt;kepahlawanan, dan lain sebagainya. Mungkin pesan-pesan seperti inilah yang diharapkan&lt;br /&gt;dari orang-orang dewasa dengan membiarkan anak-anaknya untuk menyaksikan&lt;br /&gt;tontonan film kartun tanpa bimbingan orang dewasa, selain karena media kartun&lt;br /&gt;dianggap lucu, menghibur, dan efektif dalam menyampaikan pesan-pesan&lt;br /&gt;kemanusiaan/kedewasaan kepada anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikiran positif (Positive Thinkink), seolah menjadi&lt;br /&gt;tameng pembenaran dalam setiap menikmati tontonan film termasuk film kartun&lt;br /&gt;atau animasi. Jarang kemudian orang sadar bahwa dalam adegan film kartun pun&lt;br /&gt;sering tampak menyuguhkan adegan-adegan berbahaya ketimbang kelucuan. Sebut&lt;br /&gt;saja adegan-adegan jahil (term yang cukup lembut untuk menggantikan term jahat&lt;br /&gt;atau bahkan sadis) dalam Film “Tom &amp; Jerry”, adegan “tolong menolong” antara&lt;br /&gt;tokoh Nobita dan Doraemon (term yang cukup lembut juga untuk menggantikan term&lt;br /&gt;ketergantungan, manja dan konsumtif) dalam tayangan film “Doraemon”,  dan lain sebagainya. Berpikiran negatif (Negative Thinkink) seolah telah menjadi&lt;br /&gt;pola pikir yang dibungkam, dilarang atau bahkan mungkin diharamkan. Mengapa demikian?&lt;br /&gt;Karena orang dewasa sendiri tidak pernah menyikapi film-film kartun itu sebagai&lt;br /&gt;suatu film yang mengerikan, sarat dengan adegan-adegan kekerasan,&lt;br /&gt;diskriminatif, rasis, brutal, jahat, sadis, dan nilai-nilai yang bersifat&lt;br /&gt;negatif lainnya (Negative Thinkink).&lt;br /&gt;Coba tengok, kemudian cermati bagaimana seringnya divisualisasikan dalam&lt;br /&gt;film-film kartun itu misalnya sampai-sampai ada adegan sang tokoh kartun yang&lt;br /&gt;lari terbirit-birit sampai mampu menembus tembok-tembok dengan meninggalkan&lt;br /&gt;jejak postur tubuhnya. Jatuh dari gedung yang entah dari ketinggian berapa&lt;br /&gt;lantai, di tembak, di bom, di tendang sampai ke bulan. Semua adegan itu&lt;br /&gt;ditampilkan tanpa pernah berdarah-darah, luka-luka (melukai orang lain),&lt;br /&gt;apalagi menyebabkan kematian, karena dalam dunia “Tom &amp; Jerry” (dunia&lt;br /&gt;kartun) unsur kematian tidak berlaku. Bagaimana jika hal seperti ini juga&lt;br /&gt;ditiru oleh anak-anak? Karena ini semua telah terlanjur dianggap hanyalah&lt;br /&gt;sekadar tontonan anak-anak yang menghibur, lucu, dan mampu mengundang tawa!?…Apakah&lt;br /&gt;kita akan menunggu lagi sampai ada jatuh korban? Atau kita akan membimbing&lt;br /&gt;mereka dengan rasa cinta yang tulus nan ikhlas?… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun yang terjadi&lt;br /&gt;dalam setiap adegan-adegan film kartun atau animasi, pesan apapun yang hendak&lt;br /&gt;disampaikan oleh sang penciptanya, dan pesan apapun yang kemudian di/keterima&lt;br /&gt;oleh para penikmat tayangan film kartun, hanya ada satu ekspresi atau sensasi&lt;br /&gt;yang bersifat universal dalam mengalami setiap menonton film kartun atau&lt;br /&gt;animasi yaitu lucu!…Lucu karena menghibur dan bisa membuat orang tertawa&lt;br /&gt;terbahak-bahak. Tanpa sadar perilaku dalam dunia kartun telah merasuki pikiran,&lt;br /&gt;menjalar melalui darah-darah, dan bernaung disetiap jengkal urat nadi, manjadi&lt;br /&gt;bagian dari keseharian manusia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam film kartun&lt;br /&gt;yang sering menampilkan sosok-sosok hewan sebagai tokoh utama adalah merupakan&lt;br /&gt;ironi tersendiri bagi manusia yang menyaksikannya, tidak sekadar mampu&lt;br /&gt;menimbulkan sensasi tawa, namun mampu merefleksikannya secara manusiawi atau&lt;br /&gt;bathini. Perumpamaan-perumpamaan atau analogi, yang dalam hal ini adalah&lt;br /&gt;manusia yang disulap menjadi hewan kartun, bukanlah sebuah produk yang tanpa&lt;br /&gt;akar sejarah. Sebut saja akar sejarah yang berasal dari Kitab Suci, misalnya&lt;br /&gt;dalam Al-Quran sering ditemukan bagaimana sosok hewan seperti: lebah, semut,&lt;br /&gt;keledai, monyet, dan lain sebagainya dijadikan sebagai hikmah, atau pelajaran bagi manusia. Bahkan, dalam salah satu ayat Al-Quran&lt;br /&gt;disebutkan kalau tabiat manusia itu kadangkala melampaui hewan, bahkan lebih&lt;br /&gt;sesat atau rendah ketimbang sifat-sifat hewan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiruk pikuk manusia&lt;br /&gt;masa kini dalam kesehariannya, pabila diperhatikan mungkin nasibnya akan sama&lt;br /&gt;seperti yang terjadi dalam film-film kartun itu: ditertawakan. Sang pemerhati akan&lt;br /&gt;tertawa terpingkal-pingkal pabila melihat/menonton sikap dan tindak-tanduk&lt;br /&gt;sehari-hari manusia saat ini. Layaknya komentator bola, dengan bebas dan&lt;br /&gt;lepasnya bisa memberikan pendapat tentang ini dan itu bagaimana bermain bola&lt;br /&gt;yang baik, cantik dan fair play.&lt;br /&gt;Namun sayang…sensasi tersebut sering ter/dibungkam, ter/dimanipulasikan dalam&lt;br /&gt;ketidaksadaran manusia (yang berperan ganda sekaligus: subjek-objek) karena&lt;br /&gt;manusia larut dalam dunianya. Selain itu kadangkala kegiatan tertawa atau&lt;br /&gt;menertawakan kadang disikapi sebagai sesuatu yang mencemoohkan bahkan subversif&lt;br /&gt;kertimbang disikapi sebagai kritik kesadaran atas kemanusiaannya (untuk tidak&lt;br /&gt;menyebutkan manusia bodoh, tolol, kekanak-kanakan, atau tidak berpendidikan).&lt;br /&gt;Manusia saat ini sering berlindung dari “kebenarannya” sendiri. Mirip seperti&lt;br /&gt;nilai-nilai yang terkandung dalam film-film kartun. Kalau tidak keluar dari&lt;br /&gt;nalar yang sifatnya common sense film&lt;br /&gt;itu menjadi tidak seru lagi. “Kalau cuma makan gaji, mana cukup buat hidup&lt;br /&gt;sehari-hari!”. “Kalau tidak melanggar aturan lalu lintas, bisa-bisa terlambat&lt;br /&gt;kerja!”. “Kalau dengan satu kali pergi Haji bisa dianggap telah sempurna atau&lt;br /&gt;menyempurnakan dalam menjalankan Rukun Islam, apalagi kalau berkali-kali!…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang di&lt;br /&gt;Negeri Kartun!…”di negeri ini hal yang tidak mungkin terjadi, bisa terjadi.&lt;br /&gt;Di “Negeri Kartun”: Sesuatu yang dilarang bisa dilanggar, sesuatu yang bermakna&lt;br /&gt;bisa menjadi tidak bermakna, sesuatu yang sakral bisa menjadi guyonan, yang&lt;br /&gt;haram bisa menjadi halal, yang benar bisa menjadi salah, bahkan di negeri&lt;br /&gt;kartun ini Tuhan pun layak untuk ditertawakan. “Negeri Kartun” adalah suatu&lt;br /&gt;negeri yang tidak mengenal batas-batas nalar dan nilai—apapun boleh dan bisa&lt;br /&gt;dilakukan. Rakyat-rakyat di “Negeri Kartun” tidak pernah mengenal lelah, dan&lt;br /&gt;tidak pernah mengenal kata mati. “Negeri Kartun” adalah sebuah negeri yang&lt;br /&gt;patut dan layak untuk ditertawakan. “Selamat datang di Negeri Kartun!…” (by.rosihan&lt;br /&gt;fahmi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7818674461910844188-6894552746225930981?l=garishitam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garishitam.blogspot.com/feeds/6894552746225930981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://garishitam.blogspot.com/2010/05/selamat-datang-di-negeri-kartun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7818674461910844188/posts/default/6894552746225930981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7818674461910844188/posts/default/6894552746225930981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garishitam.blogspot.com/2010/05/selamat-datang-di-negeri-kartun.html' title='Selamat Datang di Negeri Kartun!…'/><author><name>Madrasah Falsafah Sophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06048138029067875070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ndm50Km1tFI/S_K_wd5PIWI/AAAAAAAAAJw/WeIL4Ux19sw/S220/ciwalk+time.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7818674461910844188.post-3835891021203814812</id><published>2010-05-16T08:17:00.000-07:00</published><updated>2010-05-16T08:18:16.691-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lingkungan'/><title type='text'>Belajarlah dari Bencana</title><content type='html'>Lewis Mumford penulis The City in History meramalkan kehancuran peradaban kota-kota besar di dunia Barat. Baginya megapolis adalah jalan menuju necropolis, kota kematian, dimana “daging menjadi debu dan kehidupan menjadi pilar garam yang tak berarti”. Meskipun pada waktu menulis bukunya New York-lah yang ada dalam benak Mumford. (Jurnal Kalam, No.19, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New York, Tokyo, Amsterdam, Jakarta dan sekitarnya merupakan prototype kota-kota metropolitan kata lain dari megapolis. Kota metropolis atau megapolis identik dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang nan tinggi. Seperti Kota Jakarta yang dulu pernah terkenal dengan Tugu Monumen Nasional (Monas), begitu juga di masa lampau pernah ada kota Babilonia yang terkenal dengan Menara Babelnya. Namun kini Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Indonesia, jadi lebih identik dengan bencana banjir musiman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, belum hilang dalam ingatan kita peristiwa-peristiwa seperti: bencana badai Tsunami di Aceh, Nias, Sumatera dan Pantai Pangandaran Jawa Barat. Gempa di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Semburan Lumpur PT. Lapindo Brantas. Belum lagi kecelakaan-kecelakaan alat transportasi umum darat, laut, maupun udara. Sebut saja kecelakaan pesawat Adam Air, KM. Senopati, kereta api-kereta api anjlok bahkan ada yang sampai terperosok ke jurang. Belum termasuk sederetan daftar bencana-bencana lainnya yang terjadi di belahan negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana alam yang mendera bangsa dan negara kita seolah tiada pernah kenal kata bosan. Bencana alam tak pernah kenal kompromi. Hal ini bisa terjadi kapan dan di mana saja. Apa yang sebenarnya terjadi dibalik semua bencana ini? Adakah yang tidak beres dengan alam atau para penghuninya? Namun bagaimana kalau yang menjadi faktor dominan dari semua bencana itu adalah justru manusia sendiri?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sheng-sheng-pu-yi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan bencana, tidak akan pernah cukup hanya dengan menggalang dana bantuan untuk meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Juga, tidak akan pernah selesai hanya dengan menyalahkan salah satu pihak dengan cara mengkambing hitamkan instansi maupun daerah lain. Dalam hal ini, pemerintah pusat, dan Kota Bogor yang sering menjadi sorotan setiap kali Jakarta dan sekitarnya terendam banjir, dengan istilah banjir kiriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita faham, bahwa sering terjadinya bencana alam tidak akan pernah luput dari bagaimana manusia itu sendiri menyikapi alam. Manusia-manusia saat ini yang tengah menganut modernisme, tanpa disadarinya secara utuh bahwa perbuatannya terhadap lingkungan hanya semata-mata memperlakukan alam sebagai objek. Lingkungan hanya dipahami sebatas pohon, gunung pasir, sungai, laut, tanah, sebagai benda mati yang pasif. Pabila kita mau berhenti sejenak, dan memikirkan kembali apa yang telah kita perbuat pada alam, bahwa sesungguhnya lingkungan alam memiliki struktur dalam seperti yang ditujukan konsep Tao.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam paradigma filsafat Cina, Sheng-sheng-pu-yi berarti “aktivitas yang tak putus-putus dari daya cipta kehidupan.” Sheng-sheng berasal dari Lampiran Besar dari I Ching, bag.5, yang menyebutkan bahwa Sheng-sheng disebut perubahan. “Pu-yi” berasal dari Book of Poetry dalam “Chou Shung,” yang mengatakan bahwa “Amanat surga memang mendalam dan tak terputus (pu-yi).” Tao secara universal dipahami oleh para filsuf kuno sebagai proses perubahan dan transformasi yang universal seperti juga sumber asli dari segala bentuk kehidupan di dunia. Artinya, tanpa kita mampu memahami kehidupan dan proses hidup dari kehidupan, kita tidak akan dapat memahami makna kedalaman dari lingkungan alam termasuk dari fenomena-fenomena bencana alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah, Masyarakat, dan Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti peristiwa yang baru-baru terjadi, ketika masyarakat Jakarta dan sekitarnya tertimpa bencana banjir, sekumpulan mahasiswa berbondong-bondong melakukan demonstrasi meneriakan ketidakbecusan pemerintah dalam menanggulangi bencana. Meski masih terlihat ada beberapa public figure, ormas, dan aparat pemerintah setempat maupun pusat beramai-ramai menceburkan diri dalam genangan air banjir untuk menolong sembari membagikan sandang dan pangan untuk kebutuhan para korban bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ironis, pabila kita mau merunut siapa pemerintah itu sebenarnya. Pemerintah tiada lain adalah merupakan bagian dari masyarakat kita sendiri, sebagai manusia-manusia terpilih. Pemerintah setingkat RT, RW, Lurah, bahkan President sekalipun, kita sendirilah yang memilih dan menentukan mereka untuk dijadikan sebagai pemimpin, manusia yang dipercaya untuk mengemban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya, kita kadang suka menunjuk hidung para pemerintah sebagai manusia-manusia yang tidak amanah. Benarkah demikian? Lalu bagaimana dengan keputusan kita sendiri saat memilih mereka? Apakah kita sewaktu memilih berlandaskan amanah, dan sesuai dengan hati nurani? Bukankah pemimpin yang dipilih merupakan cerminan diri dari sang pemilih? Artinya, ketika kita mencaci maki, melakukan hujatan dengan cara unjuk rasa atau demonstrasi, bahkan merusak dan menghancurkan fasilitas kantor pemerintahan, bukankah itu sama artinya dengan kita mencacimaki, murka pada diri kita sendiri, dan berarti menghancurkan “rumah” kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana yang menimpa bangsa dan negara kita bukanlah hanya derita pemerintah semata, namun derita kita semua. Kita sering lupa, kalau kita sendiri masih terbiasa dengan membuang sampah sembarangan, membangun rumah ditempat resapan air, menggunakan parfum yang mampu menyebabkan lapisan ozon semakin menipis, menggunakan kendaraan motor secara berlebihan, menjadikan sungai dan lautan sebagai tempat pembuangan, menebang pohon tanpa pernah mau menanamnya kembali, penambangan pasir yang menyebabkan hilangnya bukit-bukit, dan perilaku-perilaku buruk lainnya yang mampu menyebabkan alam menjadi semakin tidak bersahabat lagi dengan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian yang dalam kenyataanya, seringkali yang menjadi sasaran tembak dibalik bencana semua ini adalah pemerintah serlain faktor alam. Pemerintah sebagai aparatur negara yang memiliki wewenang dan tanggungjawab dalam mengambil kebijakan dan sikap untuk mengatur roda kehidupan, seolah menjadi ujung tombak keberhasilan suatu pemerintahan dalam mewujudkan visi dan misi suatu masyarakat atau bangsa. Artinya, baik-buruknya suatu tatanan masyarakat atau negara sangatlah tergantung sekali pada kebijakan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseimbangan Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar melalui filsafat Cina dalam menyikapi masalah lingkungan, ada dua aspek penting yang dapat kita ambil. Pertama, lingkungan alam termasuk manusia merupakan proses produksi dan reproduksi kehidupan yang berkelanjutan. Dengan pemahaman ini manusia tidak bisa memperlakukan alam sebagai bagian yang terasing dan atomis tanpa memperhatikan keseluruhan yang termasuk masa lalu dan masa depan. Kedua, manusia harus mempertimbangkan banyak level pendekatan untuk menghubungkan kebutuhan-kebutuhan potensial manusia dengan alam. Manusia harus meng-alam-kan manusia seperti juga memanusiakan alam. Memahami Tao adalah inti dari etika tentang lingkungan; juga merupakan cara untuk mentransformasikan kepalsuan dan ketidakalamian pengetahuan dan peradaban, ilmu pengetahuan dan teknologi, ke dalam spontanitas dan kealamian dari Tao.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering lupa dan dilupakan oleh kehidupan kita sehari-hari. Baiknya kita segera “kembali ke lap top”. Bukankah Tuhan telah menggariskan bahwa:”Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-yumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu yang memikirkan.” (Q.S. 16:10-11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika bencana ini memang bagian dari kehendak Sang Maha Kuasa, maka tiada kata lain selain sepatutnyalah kita harus semakin mendekatkan diri pada-Nya. Agar kita senantiasa tabah, sabar, ikhlas, dan kuat dalam menghadapi dan bijak dalam menyikapinya. Kitalah sebenar-benarnya orang terpilih itu, yang dikasihi dan disayangi oleh Allah. Bila kita yakin! Jangan khawatir, Allah telah berjanji pada umat-Nya: ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”(Q.S. 2:286). Amin Ya Rabbal Alamin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(by. rosihan fahmi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7818674461910844188-3835891021203814812?l=garishitam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garishitam.blogspot.com/feeds/3835891021203814812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://garishitam.blogspot.com/2010/05/belajarlah-dari-bencana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7818674461910844188/posts/default/3835891021203814812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7818674461910844188/posts/default/3835891021203814812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garishitam.blogspot.com/2010/05/belajarlah-dari-bencana.html' title='Belajarlah dari Bencana'/><author><name>Madrasah Falsafah Sophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06048138029067875070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ndm50Km1tFI/S_K_wd5PIWI/AAAAAAAAAJw/WeIL4Ux19sw/S220/ciwalk+time.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7818674461910844188.post-2532691220505937316</id><published>2010-05-16T08:15:00.000-07:00</published><updated>2010-05-16T08:17:18.262-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='orat oret'/><title type='text'>Hujan</title><content type='html'>Hujan baru saja datang. Ini adalah kali&lt;br /&gt;pertama ia datang lagi, setelah sekian lama tak pernah muncul. Kehadirannya menebarkan&lt;br /&gt;aroma bau tanah kering yang khas, setelah sekian lama tidak kedatangan hujan.&lt;br /&gt;Hujan baru saja datang. Saat itu hari sudah menjelang sore. Pelangi pun tampak&lt;br /&gt;ditengah langit biru yang dikerumuni awan putih dan hitam pudar. Namun, pelangi&lt;br /&gt;tak pernah bertahan lama. Ia pun menghilang seiring matahari yang tertelan&lt;br /&gt;senja. Hujan baru saja datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pagi, cuaca terasa panas terik. Langit hanya dihiasi sedikit&lt;br /&gt;awan-awan putih yang nampak tenang nun jauh disana. Padahal mesin waktu baru&lt;br /&gt;menunjukkan pukul sembilan pagi. Kemeja yang kukenakan ditengah himpitan&lt;br /&gt;penumpang kereta api listrik basah kuyup sudah. Semprotan parfum yang&lt;br /&gt;kusemburkan keseluruh pakaian dan urat-urat nadiku tak kuasa membendung bau&lt;br /&gt;keringat yang telah bercampur dengan keringat sesama penumpang kereta api&lt;br /&gt;listrik. Kini kurasa pengap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam hari sudah hujan tak kunjung kembali.&lt;br /&gt;Aku merindukannya. Sungguh aku merindukannya. Tapi…mengapa aku selalu&lt;br /&gt;merindukan hujan?…apa hujan juga selalu merindukanku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(by. rosihan fahmi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7818674461910844188-2532691220505937316?l=garishitam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://garishitam.blogspot.com/feeds/2532691220505937316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://garishitam.blogspot.com/2010/05/hujan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7818674461910844188/posts/default/2532691220505937316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7818674461910844188/posts/default/2532691220505937316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://garishitam.blogspot.com/2010/05/hujan.html' title='Hujan'/><author><name>Madrasah Falsafah Sophia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06048138029067875070</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ndm50Km1tFI/S_K_wd5PIWI/AAAAAAAAAJw/WeIL4Ux19sw/S220/ciwalk+time.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
